Toleransi dalam mu’amalah dengan non Muslim

No Comments on Toleransi dalam mu’amalah dengan non Muslim

Pada acara kajian dwipekanan dosen yang dilaksanakan pada hari sabtu, 12 oktober 2019. Yaitu kajian kajian rutin dosen yang diselenggarakan oleh Markas Islamisasi Ilmu UNIDA. Materi yang bertema “Toleransi dalam mu’amalah dengan non Muslim” yang disampaikan oleh Al-Ustadz Hifni Nasif, M.Ag.

Pada dasarnya, kata toleransi sangat sulit untuk mendapatkan padanan katanya secara tepat dalam bahasa Arab yang menunjukkan arti toleransi dalam bahasa Inggris. Akan tetapi, kalangan Islam mulai membincangkan topik ini dengan istilah “tasamuh”. Dalam bahasa Arab, kata “tasamuh” adalah derivasi dari “samh” yang berarti “juud wa karam wa tasahul” dan bukan “to endure without protest”(menahan perasaan tanpa protes) yang merupakan arti asli kata-kata “tolerance”.

Istilah tersebut juga dikenal dengan sangat baik di dataran Eropa,  kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang menjadi inti revolusi di Perancis. sikap terbuka, lapang dada, sukarela dan kelembutan.

Tentunya, setiap agama meliki keyakinan masing-masing, tetapi keyakinan dalam Islam adalah bahwa Islam meyakini bahwa kebenaran yang datangnya dari Allah SWT adalah kebenaran yang mutlak. Sehingga, sebagai konsekwensinya (bagi Islam) tidak ada kebenaran lain di luar Islam. Keyakinan inilah yang seringkali menjadi topik utama yang dijadikan landasaan untuk menyebarkan doktrin toleransi antar umat beragama.

Islam memiliki prioritas dalam mu’alamalah, diantaranya :

  1. Hifdzu Diin
  2. Hifdzu Nasl
  3. Hifdzu Nafs
  4. Hifdzu Aql
  5. Hifdzu Maal

Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Ghair al-Muslimin fii al-Mujtama’ Al-Islami menyebutkan ada empat faktor utama yang meyebabkan toleransi yang unik selalu mendominasi perilaku umat Islam terhadap non-muslim, yaitu

  1. Keyakinan terhadap kemuliaan manusia, apapun agamanya, kebangsaannya dan kerukunannya.
  1. Perbedaan bahwa manusia dalam agama dan keyakinan merupakan realitas yang dikehendaki Allah SWT yang telah memberi mereka kebebasan untuk memilih iman dan kufur.
  2. Seorang muslim tidak dituntut untuk mengadili kekafiran seseorang atau menghakimi sesatnya orang lain. Allah sajalah yang akan menghakiminya nanti.
  3. Keyakinan bahwa Allah SWT memerintahkan untuk berbuat adil dan mengajak kepada budi pekerti mulia meskipun kepada orang musyrik. Allah juga mencela perbuatan dzalim meskipun terhadap kafir.

(Fauzia,Ed.Lusi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *