Apakah Puasa Ramadhan Membuat Kita Rentan Terinfeksi COVID-19 ?

No Comments on Apakah Puasa Ramadhan Membuat Kita Rentan Terinfeksi COVID-19 ?

Bulan yang ditunggu – tunggu oleh seluruh kaum muslim di dunia sebentar lagi tiba. Namun Ramadhan kali ini akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena Ramadhan tahun ini di tengah pandemic virus corona (COVID-19) yang terdapat banyak kekhawatiran salah satunya apakah melaksanakan ibadah puasa dapat meningkatkan risiko terinfeksi COVID-19? Kekhawatiran ini terdengar masuk akal karena untuk mencegah terinfeksi COVID-19 dapat di lakukan dengan menjaga asupan cairan.

Berpuasa merupakan salah satu dari lima rukun islam, serta umat islam diharuskan untuk berpuasa selama satu bulan penuh selama bulan Ramadhan. Selama Ramadhan, seluruh kegiatan untuk mengisi hari-harinya dilakukan untuk menuju ketaqwaan kepada Allah SWT.

Bulan suci Ramadhan biasanya ditandai dengan berkumpul atau berbuka puasa bersama saudara, keluarga, maupun teman di rumah ataupun di masjid. Namun, karena situasi Ramadhan kali ini berbeda pada tahun sebelumnya yaitu pada kondisi pandemic COVID-19 ini, maka World Health Organization (WHO) merilis langkah-langkah dengan tajuk Safe Ramadhan Practices in The Context of The Covid-19 yang diperlukan selama menjalani bulan Ramadhan dengan aman.

Setiap negara memiliki kebijakannya masing-masing dalam mengontrol penyebaran COVID-19 terutama pada bulan suci Ramadhan. Mengenai hal tersebut, WHO menyatakan bahwa otoritas kesehatan dan pemuka agama harus bekerja sama untuk membuat keputusan berdasarkan kondisi saat ini. Namun, WHO tetap menghimbau untuk tetap menjaga jarak social disetiap kegiatan apapun.

“Jika pembatalan pertemuan social dan keagamaan dilakukan maka dapat di gunakan alternative lain seperti radio, televise, digital, dan media social” jelas WHO. Selain itu, dalam menjalankan kegiatan, umat islam diharuskan untuk mengikuti saran jarak fisik dan saran untuk orang yang rentan terinfeksi, yaitu dengan menjaga jarak minimal 1 meter antar orang serta menggunakan salam keagamaan yang menghindari kontak fisik seperti melambai tangan atau mengangguk. Sementara untuk orang yang rentan atau yang sedang sakit atau memiliki gejala Covid-19 maka diharuskan untuk menghindari pertemuan. WHO juga berpesan untuk orang lansia (lanjut usia) atau orang dengan kondisi penyakit bawaan seperti jantung, diabetes, kanker, dan penyakit pernafasan untuk tidak menghadiri pertemuan.

Untuk mitigasi, WHO juga menyarankan untuk melaksanakan kegiatan Ramadhan di ruang terbuka atau di ruang tertutup dengan ventilasi yang cukup serta meminimalisisr waktu sebisa mungkin.

WHO juga meyakini dengan berwudhu, umat muslim akan selalu terjaga kebersihannya, dan untuk memaksimalkan pencegahan tersebut dapat ditambah dengan menggunakan sabun dan memakai sajadah masing-masing.

“Tempat ibadah sesering mungkin untuk dibersihkan, baik sebelum ataupun sesudah dihadiri orang, pembersihan dapat menggunakan detergen maupun disinfektan, termasuk pada tempat wudlu” imbau WHO.

Berkaitan dengan zakat, WHO menyarankan agar zakat dapat dikoordinir oleh entitas ataupun lembaga, sehingga tidak menimbulkan orang berkumpul dalam jumlah yang banyak dalam hal mengumpulkan hingga proses pendistribusian zakat.

Mengenai resiko terinfeksinya covid-19 saat berpuasa, WHO juga menyampaikan bahwa hingga saat ini tidak ada penelitian yang menyatakan bahwa berpuasa berisiko terinfeksi covid-19. Orang yang sehat diperbolehkan untuk berpuasa, sementara yang sedang sakit harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Dr. Ali Ahmaf Masha’el, seorang Mufti tertinggi di Departemen Islam dan Kegiatan Amal di Dubai menyampaikan bahwa “Puasa merupakan pilar keempat Islam. Sehingga, tidak ada alasan untuk tidak berpuasa kecuali untuk orang sakit yang sedang menjalani pengobatan dan puasa akan memperbaiki kondisi kesehatannya”.

Islam memperbolehkan orang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa apabila dilaksanakan puasa tersebut dapat membahayakan hidup mereka atau membahayakan kesehatannya. “Orang yang sedang sakit, yang takut apabila melaksanakan puasa dapat memperburuk penyakitnya atau memperlama proses penyembuhan atau dapat merusak bagian tubuhnya maka memiliki keringanan untuk tidak berpuasa,” jelas Mufti.

 Dr. Ali juga menyampaikan bahwa orang yang sedang sakit parah, maka tidak boleh baginya berpuasa. Tetapi jika seseorang yang sehat dan takut akan kesulitan ataupun kelelahan atau takut sakit, maka tidak boleh baginya untuk berbuka puasa.

Ketika berpuasa di bulan Ramadhan ini, WHO menyarankan kepada seluruh umat muslim untuk menjaga kebutuhan nutrisi, menjaga kesehatan fisik serta mental, menghindari rokok, dan tetap menjauhi kekerasan rumah tangga yang meningkat seiring pemberlakuan tinggal dirumah atau #StayAtHome.

  (saf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *