Dampak Interaksi Obat dan Makanan Terhadap Tubuh

No Comments on Dampak Interaksi Obat dan Makanan Terhadap Tubuh

interaksi obat

Interaksi obat adalah salah satu tipe dari permasalahan yang terkait dengan penggunaan obat yang secara bersamaan dengan makanan atau minuman yang berpotensi untuk merubah efek dari obat yang bersangkutan, baik meningkatkan efek atau justru malah menurunkan efek dari obat yang bersangkutan. Penggunaan obat dalam terapi suatu penyakit mempunyai dua sisi yang saling berlawanan, yaitu di satu sisi obat mempunyai efek terapi yang dapat mengobati pasien,  dan di sisi lain menimbulkan efek yang tidak diharapkan.

Obat dapat berinteraksi dengan obat lain maupun dengan makanan atau minuman yang di konsumsi oleh pasien. Hal ini dapat terjadi karena dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang seorang penderita mendapat obat lebih dari satu macam obat dan menggunakan obat bebas tertentu selain yang diresepkan oleh dokter maupun mengkonsumsi makanan dan minuman tertentu seperti yang mengandung kafein dan alcohol. Perubahan efek obat akibat interaksi obat dapat bersifat membahayakan dengan meningkatnya toksisitas obat atau berkurangnya khasiat suatu obat.

Mekanisme interaksi obat dapat dibagi menjadi interaksi yang melibatkan aspek farmakokinetika obat dan interaksi yang mempengaruhi respons farmakodinamik obat. Interaksi farmakokinetik dapat terjadi pada beberapa tahap meliputi absorpsi, distribusi, metabolism, dan ekskresi. Interaksi farmakodinamik adalah interaksi dimana efek suatu obat diubah oleh obat lain pada tempat aksi. Pengetahuan mengenai hal ini akan bermanfaat dalam melakukan upaya pencegahan terhadap efek merugikan yang dapat ditimbulkan akibat interaksi obat.

Sebagian besar interaksi obat-makanan bersifat merugikan dan hanya sebagian kecil saja yang menguntungkan yaitu seperti pada interaksi obat-makanan obat-obat diazepam, propranolol yang menyebabkan peningkatan absorpsi obat. Dampak interaksi obat yang bersifat merugikan yaitu berkurangnya bioavailabilitas suatu obat akibat gangguan absorpsi, timbulnya efek nefrotoksik, bersifat antagonis terhadap efek obat lain, dan peningkatan toksisitas obat.

Makanan dapat mempengaruhi kecepatan dan jumlah obat yang di absorpsi setelah pemberian obat secara peroral. Efek yang ditimbulkan bervariasi tergantung dari jenis makanan, obat, dan formulasi obat. Beberapa absorpsi obat dapat meningkat dengan adanya makanan, seperti diazepam, propranolol dan siklosporin. Namun, ada pula interaksi obat-makanan yang menimbulkan absorpsi dapat berkurang atau delay.

Ada banyak minuman yang memiliki interaksi dengan obat seperti susu yang dikonsumsi dengan antibiotic seperti tetrasiklin, siprofloksasin akan menyebabkan pembentukan senyawa khelat yang sulit diserap mengakibatkan penurunan efek, bahkan gagal terapi. Teh atau kopi yang mengandung kafein bila berinteraksi dengan obat  seperti fenilpropanolamin dalam obat flu akan menyebabkan lonjakan tekanan darah dan resiko pendarahan diotak. Jus jeruk bali merah mengandung senyawa furanokumarin, bila dikonsumsi bersamaan dengan simvastatin (antikolestrol) dapat meningkatkan konsentrasi obat sehingga menyebabkan efek samping serius seperti kerusakan otot. Jus pisang ambon mengandung kalsium yang sangat kecil sehingga kemungkinan terjadi pembentukan khelat tak larut antara tetrasiklin dengan kalsium. Jadi untuk mencegah reaksi merugikan disarankan untuk meminum obat dengan air putih  

Sumber:

  • Titik Aisyah,dkk. Pengaruh Praperlakuan Pemberian Jus Pisang Ambon Terhadap Profil Farmakokinetik Tetrasiklin Pada Tikus Putih Jantan. Jurnal pharmacy, Vol.10 No.01 Juli 2013.
  • Fita Rahmawati, dkk. Kajian Retrospektif Interaksi Obat Di Rumah Sakit Pendidikan Dr. Sardjito Yogyakarta. Majalah Farmasi Indonesia 17(4), 177-183, 2006.
  • Siti Utami, dkk. Interaksi Warfarin Dan Herbal Untuk Meminimalkan Kejadian Adverse Drug Reaction (ADR). Jurnal Farmaka suplemen vol. 16 No.02, 2018.

(Aldila Quria, Ed.saf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *