Perbedaan Rapid Test dan Swab Test

No Comments on Perbedaan Rapid Test dan Swab Test

Apakah orang yang telah dinyatakan positif covid-19 melalui rapid test dan swab test pasti 100% terkena covid-19?? Banyak sekali masyarakat yang ketakutan secara berlebihan sampai memusuhi orang yang dinyatakan positif. Sebenarnya apa sih rapid test dan swab test itu??

Rapid Test merupakan bentuk skrining awal terhadap infeksi covid-19. Uji ini dilakukan dengan menggunakan sampel darah dan hanya memerlukan waktu 10-15 menit untuk mengetahui hasilnya. Uji ini bekerja dengan cara mendeteksi keberadaan antibodi di dalam darah berupa IgM dan IgG. IgM dan IgG adalah antibodi yang terbentuk di dalam tubuh dikarenakan terdapat mikroorganisme yang menginfeksi misalnya covid-19. Antibodi ini terbentuk sekitar 2-4 minggu setelah tubuh terinfeksi mikroorganisme.

Rapid test sejauh ini belum terbukti akurat dalam mendeteksi apakah seseorang terinfeksi covid-19 atau tidak. Hal ini dikarenakan hasil positif pada rapid test menunjukkan bahwa terdapat mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh. Mikroorganisme tersebut bisa jadi covid-19 atau bisa jadi virus lain atau bakteri atau mungkin protozoa. Misalnya saja seseorang terkena malaria dikarenakan Plasmodium sp., rapid test pun akan menunjukkan hasil yang positif dikarenakan Plasmodium sp. juga menyebabkan kenaikan antibodi IgM dan IgG dalam tubuh. Sebaliknya, apabila hasil rapid test menunjukkan negatif bukan berarti orang tersebut terbebas sama sekali dari covid-19. Hasil negatif tersebut bisa jadi dikarenakan uji rapid yang dilakukan pada saat orang tersebut baru terinfeksi covid-19 (belum 2 minggu). Antibodi IgM dan IgG belum terbentuk dalam jumlah banyak sehingga jika di tes rapid akan menunjukkan hasil negatif.

Pada alat rapid test, terdapat beberapa notasi atau tanda yang harus dipahami pula. Notasi C artinya adalah control yang artinya bahwa apabila setelah ditetesi darah dan tidak terbentuk strip merah pada tulisan C maka menunjukkan bahwa alat yang digunakan rusak atau jumlah darah yang diteteskan kurang banyak. Tanda M menunjukkan keberadaan IgM dan tanda G menunjukkan keberadaan IgG. Apabila terbentuk strip pada tanda M atau tanda G atau pada keduanya, berarti terdapat indikasi bahwa orang tersebut terkena covid-19 dan perlu dilanjutkan dengan swab test.    

Swab test merupakan uji lanjutan terhadap infeksi covid-19. Uji ini dilakukan menggunakan sampel lendir yang ada di hidung atau tenggorokan. Uji ini memerlukan waktu yang lebih lama daripada rapid test yaitu beberapa jam sampai beberapa hari. Sampel lendir yang telah didapatkan akan dianalisis menggunakan metode Polimerase Chain Reaction (PCR) dan dibaca hasilnya menggunakan elektroforesis. Prinsip kerja PCR adalah menggandakan fragmen-fragmen DNA/RNA secara cepat dalam waktu singkat. Proses ini dimulai dengan cara sampel lendir yang sudah didapatkan kemudian di sentrifuse untuk memisahkan antara materi genetik (DNA atau RNA) dari bagian sel yang lain. setelah itu, sampel DNA/RNA yang sudah didapatkan ditambahkan buffer, enzim polymerase dan primer. Tiga tahap kerja PCR dalam satu siklus yaitu :

  1. Denaturasi. Pada tahap ini, ikatan hidrogen DNA terputus (denaturasi) sehingga membentuk untai tunggal. Tahap ini berlangsung pada suhu tinggi, yaitu 94–96°C. Pemisahan ini menyebabkan DNA tidak stabil dan siap menjadi template bagi primer. Tahap ini berlangsung selama 1–2 menit.
  2. Annealing. Primer menempel pada bagian DNA template yang komplementer urutan basanya. Tahap ini dilakukan pada suhu antara 45–60°C. Penempelan ini bersifat spesifik. Suhu yang tidak tepat menyebabkan tidak terjadinya penempelan atau primer menempel di sembarang tempat. Tahap ini berlangsung selama 1–2 menit.
  3. Elongasi. Suhu untuk proses ini tergantung dari jenis DNA-Polimerase yang dipakai. Proses ini biasanya dilakukan pada suhu 76 °C. Tahap ini berlangsung selama 1 menit.

Urutan DNA/RNA hasil PCR sampel kemudian dimasukkan dalam alat bernama elektroforesis untuk dibaca dan dibandingkan dengan kontrol yang berisi urutan DNA/RNA organisme yang diinginkan. Apabila pita-pita berpendar yang ada pada sampel memiliki kemiripan dengan pita-pita yang terbentuk dari DNA/RNA kontrol misalnya diisi covid-19, maka dapat disimpulkan bahwa orang yang diuji positif terinfeksi covid-19.

Hanya saja, primer yang digunakan dalam PCR covid-19 ini sampai sekarang belum ada yang spesifik dan masih menggunakan primer untuk menganalisis virus corona secara umum yaitu primer yang digunakan pula untuk pendeteksian infeksi virus SARS dan MERS. Oleh karena itu, apabila hasil PCR menunjukkan hasil positif sebenarnya belum bisa menunjukkan 100% bahwa orang tersebut pasti terkena covid-19. Bisa jadi orang tersebut terkena virus SARS atau MERS atau virus corona jenis lain. Wallohu A’lam. (Nurul Marfu’ah, M.Si)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *