Free image by Worksheet Freepik

Kita menuntut ilmu untuk menjadi orang yang baik, bukan orang yang bisa menjawab pertanyaan ujian.
Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian.
Jangan salah kaprah!”

K.H Hasan Abdullah Sahal

Begitulah pedoman yang selalu digaungkan di lingkup pendidikan Gontor, terutama pada masa-masa mendekati hari ujian. Di Gontor, ujian merupakan momen yang tidak hanya sekedar menguji kemampuan akademik para santrinya, namun juga momen dimana setiap orang belajar cara mengevaluasi diri masing-masing. Ujian dalam hidup, merupakan suatu hal yang lazim. Setiap Nabi dan Rasul yang diutus Allah mengalami ujian yang berbeda-beda. Nabi Adam diberi ujian berupa larangan mengkonsumsi buah Khuldi, Nabi Ibrahim diuji untuk menyembelih salah satu putranya, begitupula Nabi Muhammad SAW diuji dengan sulitnya berdakwah dengan diperangi kaum kafir Quraisy. Ujian diberikan kepada manusia sesuai kadar keimanannya. Bagi setiap orang yang beriman, pasti menyadari bahwa dunia adalah panggung ujian dan dengan adanya ujian adalah untuk meningkatkan derajat manusia di sisi Allah.

Setiap jiwa pasti akan mati. Dan, Kami uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan; kepada Kamilah kalian kembali.”

Q.S Al- Anbiya’ [21]: 35.

Di Gontor, pemandangan khas yang biasa ditemui ketika memasuki masa-masa ujian adalah kegiatan membaca, menghafal dan mengulang-ulang materi yang sebelumnya telah dipelajari di kelas, sebagai bentuk ikhtiar untuk dapat menunjukkan hasil terbaik selama mengikuti proses belajar di Gontor. Dalam menghafal, terdapat beberapa cara dan metode yang bisa diterapkan untuk dapat menghafal dengan mudah.

Mahasiswi sedang belajar menghafal di Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri

Cara mudah menghafal ini akan sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan dalam mengingat sesuatu, baik dalam pekerjaan maupun dalam aktifitas lainnya. Cara yang cukup sederhana ini akan menghasilkan efek yang sangat baik untuk kemampuan berpikir, diantaranya adalah:

  1. Tafahhum (Memahami)
    Memahami dengan baik materi yang ingin dihafalkan adalah komponen penting untuk dapat menghafal dengan mudah. Jika seseorang memiliki pemahaman dengan baik terhadap sesuatu, maka otak akan menyimpan memori tersebut di tempat yang mudah dicerna, sehingga proses untuk mengingatnya cenderung mudah.
  2. Talqin (Mengucapkan dengan suara yang jelas)
    Memperkeras suara dalam menghafal dapat mempercepat dan mempermudah proses menghafal. Hal ini dikarenakan suatu tindakan atau aktifitas dapat meningkatan memori. Sebuah penelitian yang dilakukan di Waterloo University menunjukkan bahwa apabila kita menambahkan ukuran aktif atau elemen produksi ke sebuah kata, kata itu menjadi lebih berbeda dalam memori jangka panjang, dan karenanya lebih berkesan, ujar MacLeod, ketua departemen psikologi di kampus tersebut. Membaca dengan suara yang terdengar terbukti menjadi cara terbaik untuk mengingat suatu informasi.
  3. Tikrar (Mengulang-ulang)
    Menghafal dengan cara mengulang-ulang bacaan atau informasi mungkin merupakan salah satu cara yang umum diterapkan saat seseorang ingin menghafal. Bahkan secara refleks, seseorang akan mengulang-ulang sesuatu untuk dapat menghafalnya. Metode ini dianggap sebagai metode yang paling efektif untuk menghafal. Trik menghafal dengan metode tikrar ini dapat dipraktekkan dengan mengulang suatu informasi sebanyak 7 kali sebelum menambah informasi selanjutnya.
    Tidak hanya itu, mengulang-ulang informasi juga bisa meningkatkan kemampuan ingatan jangka pendek.
  4. Tarbut (Mengikat hafalan dengan menulis)
    Menuliskan informasi adalah suatu hal yang mendesak dalam menuntut ilmu, begitu pula ketika menghafal. Imam Syafi’i pernah berkata, Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Dengan menuliskan sesuatu, seseorang tidak akan mudah melupakannya, karena pembelajaran dan ingatan timbul dari keterlibatan aktif suatu perilaku. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam tafsiran surat Al-‘Alaq ayat ke-4 menyebutkan “Yang mengajarkan dengan perantara pena”. maksudnya yaitu bacalah dengan menghafal, jika tidak maka dengan tulisan.
  5. Muraja’ah (Mengulang Hafalan)
    Muraja’ah adalah hal paling penting yang perlu dilakuan untuk mengingat apa yang sudah dihafalkan. Setelah selesai menghafal suatu topik, mengulang hafalan merupakan suatu keharusan, untuk menghindari dari lupa. Muraja’ah sangat penting karena muraja’ah inilah yang akan melekatkan hafalan secara lebih kuat ke dalam benak kita. Jika saat proses menghafal menggunakan metode tikrar dianjuran mengulang 7 kali, maka tips dalam muraja’ah adalah mengulang hafalan sebanyak 3 kali. Hal ini untuk memperkuat hafalan yang sudah dimiliki di dalam otak. Muraja’ah juga termasuk cara yang biasa digunakan dalam menghafal Al-Qur’an menggunakan metode 3 T 1 M, apa itu? Selengkapnya bisa disimak dalam link berikut.
  6. Meditasi
    Setelah melakukan beberapa cara menghafal di atas, maka cobalah meditasi. Dalam sebuah riset, meditasi terbukti bisa meningkatkan fungsi otak untuk mengingat dalam jangka pendek maupun panjang. Hasil penelitian itu juga memperlihatkan gambar otak, mereka yang lebih sering bermeditasi memiliki otak yang lebih sehat, sehingga untuk menghafal sesuatu pun menjadi lebih mahir. Di dalamnya, juga termasuk mengatur pola tidur, karena tidur adalah suatu bentuk meditasi. Memiliki waktu tidur yang berkualitas penting untuk menjaga kesehatan otak. Jika pola tidur terganggu, maka fungsi kognitif tubuh juga akan terganggu, yang berakibat pada menurunnya kualitas otak. Sebelum menghadapi ujian, terapkan pola tidur yang sehat agar dapat mengingat sela informasi yang sudah dihafal sebelumnya.
  7. Hindari menghafal dengan metode SKSSistem Kebut Semalam
    Sistem kebut semalam adalah cara cepat menghafal yang kuno dan tidak efektif. Sebab, menghafal sesuatu dalam jangka waktu yang panjang, dipercaya lebih efektif. Bahkan sebaliknya, dianjurkan untuk menyegerakan istirahat untuk kemudian dapat segera bangun di dini hari. Hal ini bahkan dicontohkan oleh Allah dalam Q.S Al-Muzammil ayat 6, yang berbunyi ‘Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan (Qur’an) di waktu itu lebih kuat masuk hati‘. Yang dimaksud malam disini adalah dini hari setelah bangun dari tidur malam, berarti dapat diterjemahkan ke jam 02.00 am atau 03.00 am. Para ulama menganjurkan untuk menghafal pada jam-jam tersebut karena pikiran masih dalam keadaan segar dan jernih.
  8. Menghindari distraksi
    Distraksi atau segala sesuatu yang dapat mengalihkan perhatian perlu untuk dihindari. Untuk bisa “memindahkan” apa yang sudah dihafal dari ingatan jangka pendek ke jangka panjang harus terhindar dari distraksi. Saat mencoba menghafal sesuatu, usahakan jangan monoton, dan jauhkanlah diri dari segala hal yang dapat mengalihkan perhatian dari proses menghafal, seperti kebisingan, teman yang mengajak mengobrol, tempat tidur yang terlihat lebih nyaman, makanan yang menggoda untuk dikonsumsi, atau bahkan gadget yang melambai-lambai untuk dijamah. Jika perlu, isolasikan diri dari hal-hal yang biasanya menjadi teman hiburan sehari-hari, jadikan hal-hal tersebut sebagai suatu bentuk reward kelak setelah berhasil menghafal. Dengan cara tersebut, proses menghafal akan terasa lebih bermakna dan hadiah di belakangnya terasa begitu nikmat.
  9. Jangan fokus ke informasi yang mudah saja
    Saat menghafal sesuatu, seseorang akan cenderung mendahulukan informasi yang mudah dihafal, dibandingkan informasi yang rumit, berbelit-belit dan juga rumit. Padahal, menyisakan waktu lebih lama untuk mempelajari dan menghafal informasi yang sulit ini, bisa menjadi cara cepat menghafal yang efektif. Sehingga alangkah baiknya menghafal hal-hal yang lebih sulit di saat tenaga dan waktu masih cukup luang. Jangan mau ‘kalah‘ dari hal-hal atau informasi sulit tersebut, dan cobalah berikan usaha dan tenaga ekstra untuk menghafalnya.
  10. Jangan lupa berdo’a dan minta dukungan orangtua
    Kita pasti ingat nasihat ini, Usaha tanpa do’a itu sombong, dan do’a tanpa usaha itu omong kosong. Sebagai makhluk yang diciptakan Allah, kita manusia tidaklah memiliki kuasa atas segala hal. Setiap perbuatan atau usaha yang kita kerahkan akan berujung sia-sia apabila Sang Pemberi Kehidupan tidak menghendakinya. Maka setelah melakukan berbagai upaya dalam menghafal, hal terakhir yang perlu dilakukan adalah berdo’a dan bertawakkal kepada Allah. Luruskan niat ikhlas untuk mendapatkan setitik ilmu dari Allah. Selain itu, do’a dan restu dari orang tua juga salah satu hal yang penting untuk didapatkan dalam proses menghafal, karena Ridho Allah ada pada ridho kedua orang tua. Bahkan pada sebuah studi membutikan bahwa memiliki dukungan yang supportif memiliki dampak yang baik pada kesehatan otak.

Demikian beberapa tips dan trik yang dapat diterapkan untuk dapat menghafal dengan mudah dalam menghadapi ujian. Namun sepertinya, berbagai cara cepat menghafal tersebut tidak akan optimal, jika tidak didukung dengan gaya hidup yang sehat. Sebab, akal yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat pula. Sehingga perlu kiranya untuk menjaga kesehatan tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW, selengkapnya dapat dibaca disini.

Red. IW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *