“Sesungguhnya pengobatan paling ideal yang kalian pergunakan adalah hijamah (bekam).”

Sabda Rasulullah SAW dari Anas bin Malik r.a. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

Bekam (hijamah: Arabic) merupakan metode penyembuhan berusia ribuan tahun yang hingga kini masih ramai digunakan oleh masyarakat. Pengobatan ini telah dipraktikkan oleh berbagai macam peradaban besar kuno di dunia, termasuk Mesir, Timur Tengah, Persia, Babilonia, Cina, India, Yunani, dan Romawi. Pada zaman Nabi Muhammad ﷺ, bekam atau al hijamah merupakan salah satu metode pengobatan yang disebut Thibbun Nabawi (Pengobatan ala Nabi) dimana Rasulullah banyak menganjurkannya dalam berbagai hadits.

“Jika pada sesuatu yang kalian pergunakan untuk berobat itu terdapat kebaikan, maka hal itu adalah bekam.”

Dari Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Abu Daud

Bekam dilakukan dengan melakukan penyedotan darah lokal menggunakan cup/mangkuk. Terapi bekam terbagi menjadi dua jenis, yakni bekam kering dan bekam basah, dimana yang membedakan dari kedua jenis bekam tersebut adalah ada/tidaknya darah yang dikeluarkan. Pada bekam kering, tidak dilakukan sayatan kecil pada kulit sehingga tidak ada darah yang dikeluarkan. Sedangkan pada bekam basah, darah dikeluarkan dari tubuh melalui sayatan kecil.

Pada proses terapi pembekaman, terjadi pembendungan darah lokal, dimana tekanan negatif (kekuatan isap dari cup/mangkuk) yang dilakukan di permukaan kulit mengakibatkan kulit terisap kedalam cup dan mengalirkan darah yang berisi komponen darah (sel darah merah, sel darah putih, plasma darah serta zat berbahaya dalam tubuh) bergerak ke daerah cupping. Tindakan perlukaan (penyayatan kecil -ed) pada daerah cupping akan membuka kulit untuk mengeluarkan darah beserta komponen-komponennya. Setelah dilakukan tindakan perlukaan, tekanan negatif kembali diulang menggunakan cupping pada daerah tersebut. Tekanan negatif yang kedua kalinya ini mengakibatkan seluruh cairan yang terkumpul keluar.

Ilustrasi Proses Bekam (sumber: S. Mohamed El Sayed, )

Dalam metode Thibbun Nabawi, bekam memberi manfaat diantaranya membersihkan plasma darah dari zat-zat berbahaya, membuang sel darah yang rusak, serta meningkatkan dan memperbaiki daya tahan tubuh. Pembersihan plasma darah akan melancarkan sirkulasi darah dengan mencegah penebalan pembuluh darah akibat kolesterol. Lima belas hari setelah terapi bekam, terjadi stimulasi pembentukan sel pembunuh alami (Natural Killer Cells), sehingga daya tahan tubuh meningkat dan berfungsi lebih baik sebagai pencegahan maupun perlawanan terhadap penyakit[2].

Bekam dapat digunakan untuk penyakit lokal maupun sistemik. Penyakit lokal diantaranya sakit pinggang, leher, bahu dan kepala, migrain, kekakuan otot dan keram. Adapun penyakit sistemik seperti sakit kepala karena tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, nyeri sendi, asma, anemia, cemas dan depresi, serta infertilitas juga dapat diusahakan kesembuhannya melalui bekam. Teori-teori ilmiah masih terus dikembangkan untuk menjelaskan mekanisme bekam dalam mengatasi berbagai penyakit, salah satunya adalah bekam dapat mempengaruhi sistem saraf otonom sehingga dapat mengurangi rasa sakit[3]. Pelepasan mediator antiinflamasi ketika proses bekam juga diyakini memberikan efek relaksasi pada otot yang kaku dan keram[1].

Masih banyak ditemui masyarakat yang meragukan praktik bekam karena adanya proses perlukaan pada kulit. Namun hal tersebut sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan, karena efek samping yang ditimbulkan dari praktik bekam tidaklah berat, melainkan hanya kemerahan dan nyeri pada daerah cupping yang akan hilang dalam waktu 2 – 3 hari. Beberapa efek samping yang bisa saja muncul setelah penggunaan bekam adalah mual, sakit kepala (akibat kekurangan darah -ed), dan terbentuknya jaringan parut. Dalam sebuah penelitian systematic review dilaporkan penggunaan bekam dengan pengawasan praktisi kesehatan pada prosedur yang tepat secara umum bersifat aman, dan belum didapatkan kejadian tidak diinginkan yang serius dari penggunaan bekam[4].

Bekam memiliki banyak manfaat terhadap kesehatan, sebagai thibbun nabawi praktik bekam juga merupakan sebuah syi’ar dakwah Islam dengan mengajarkan dan mengajak umat Muslim mengikuti sunnah Rasul. seperti yang disampaikan dalam hadits

“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“

HR Ibnu Majah (no. 209), pada sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, oleh karena itu syaikh al-Albani menshahihkannya dalam kitab “Shahih sunan Ibnu Majah” (no. 173)

Semakin berkembangnya zaman, praktik bekam kini semakin diakui dan didukung oleh pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1076/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional. Isinya mewajibkan instansi yang melayani praktik bekam untuk memiliki rekomendasi dari organisasi atau asosiasi bekam seperti ITBI (Ikatan Terapis Bekam Indonesia) atau ABI (Asosiasi Bekam Indonesia). Dimana masing-masing asosiasi tersebut memberikan persyaratan yang berbeda bagi calon terapis untuk bisa mendapatkan rekomendasi praktik bekam. Dengan adanya dukungan pemerintah dan terjaminnya peralatan yang yang digunakan, keamanan dan kenyamanan masyarakat yang ingin menjadikan bekam sebagai salah satu penunjang kesehatannya tidak perlu diragukan lagi.

Redaktur: apt. Nadia Iha Fatihah, M.Clin.Farm
Ed: IW

Referensi:

  1. S. Mohamed El Sayed et al., “Therapeutic Benefits of Al-hijamah: in Light of Modern Medicine and Prophetic Medicine,” Am. J. Med. Biol. Res., vol. 2, no. 2, pp. 46–71, Apr. 2014, doi: 10.12691/ajmbr-2-2-3.
  2. Y. Risniati, A. R. Afrilia, T. W. Lestari, N. Nurhayati, and H. Siswoyo, “Pelayanan Kesehatan Tradisional Bekam: Kajian Mekanisme, Keamanan dan Manfaat,” J. Penelit. Dan Pengemb. Pelayanan Kesehat., pp. 212–225, Aug. 2020, doi: 10.22435/jpppk.v3i3.2658.
  3. J.-I. Kim, M. S. Lee, D.-H. Lee, K. Boddy, and E. Ernst, “Cupping for Treating Pain: A Systematic Review,” Evid. Based Complement. Alternat. Med., vol. 2011, pp. 1–7, 2011, doi: 10.1093/ecam/nep035.
  4. H. Cao et al., “Clinical research evidence of cupping therapy in China: a systematic literature review,” BMC Complement. Altern. Med., vol. 10, no. 1, p. 70, Dec. 2010, doi: 10.1186/1472-6882-10-70.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *