Permasalahan obat batuk sirup anak yang saat ini ramai dibicarakan oleh masyarakat akibat kasus gagal ginjal akut hingga menyebabkan kematian, merupakan sebuah berita duka dalam keilmuan farmasi. Berdasarkan Surat Edaran Kemenkes yang sempat disebarkan, seluruh apotek di penjuru Indonesia diberi himbauan untuk menghentikan sementara distribusi dan pemasaran obat dalam bentuk cair. Berita ini selanjutnya mengakibatkan kehebohan hampir di seantero Nusantara. Lalu, apa sih sebenarnya obat cair yang diperintahkan untuk dihentikan penjualannya ini?

Sirup adalah obat cair, namun obat cair belum tentu sirup!

Anonymous

Loh, kok bisa? Bagaimana maksudnya?

Nah, untuk menghilangkan kebingungan umum, alangkah baiknya kita menyimak artikel ini hingga tuntas, yuk kita belajar ala mahasiswa farmasi dalam mempelajari formulasi obat.

Bentuk sediaan obat secara umum ada 3 jenis yaitu padat, cair, dan semi padat. Obat sediaan padat seperti yang kita ketahui ada pil, tablet, kapsul, kaplet, dan lainnya. Sedangkan obat sediaan cair bisa berupa sirup, suspensi, emulsi dan eliksir, ada juga tetes mata, obat kumur dsb. Beda lagi dengan sediaan semi padat ada gel, salep, krim dan pasta. Sediaan obat cair, atau yang biasa disebut dengan larutan, pada umumnya bentuk sediaan ini menyesuaikan karakter bahan aktif dan kebutuhan pasien. Obat dalam sediaan cair dapat terdiri dari 1 atau lebih bahan kimia aktif (bahan obat) sebagai bahan yang dapat memberikan efek terapi. Bahan obat ini harus dicampurkan dengan bahan tambahan lain sehingga dapat tercampur dengan baik, dan bisa bertahan beberapa saat selama proses pemasaran.

Jadi, obat cair tidak hanya sirup ya.. Ada juga suspensi dan emulsi, seperti obat Scott Emulsion yang dulu sempat viral. Tau kan? Itu adalah salah satu contoh bentuk sediaan cair obat berupa emulsi.

Nah, dalam proses pembuatan sediaan cair kelarutan merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam proses pencampuran bahan-bahan obat yang diperlukan. Tercampur atau tidaknya suatu bahan obat tergantung pada sifat masing-masing bahan obat tersebut. Terdapat bahan obat yang sangat mudah larut, mudah larut, dapat larut, agak sukar larut, sukar larut, sangat sukar larut dan praktis tidak larut. Hal inilah yang menjadi tantangan besar yang perlu dihadapi dan diselesaikan oleh para peracik (formulator) obat di industri farmasi, salah satunya teman-teman apoteker sains.

Salah satu bahan obat yang memilki sifat agak sukar larut atau bahkan sukar larut adalah PARACETAMOL, yang biasa ada dalam sediaan obat demam, obat sakit kepala, pegal linu, dan dalam sediaan obat batuk yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan oleh masyarakat Indonesia.

Kenapa paracetamol? Bagaimana paracetamol dapat menyembuhkan demam, nyeri kepala, dan batuk?
Yuk, kita belajar sedikit tentang farmakologi.

Paracetamol (baca: parasetamol) merupakan suatu zat aktif (bisa disebut juga bahan obat) yang dapat memberikan efek analgetik (baca: analgesik) dan antipiretik dengan aktifitas antiinflamasi yang sedikit. Sederhananya, analgetik digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri dan antipiretik pada umumnya untuk menurunkan suhu tubuh/badan yang tinggi atau demam.

Proses paracetamol dapat memberikan efek analgesik adalah dengan cara menghambat sintesis (pembentukan) prostaglandin di sistem saraf pusat (SSP). Prostaglandin merupakan zat penyebab timbulnya peradangan yang diproduksi tubuh. Saat pembentukan zat tersebut dihambat oleh paracetamol, maka otak tidak akan menerjemahkan gejala yang terjadi sebagai rasa sakit.  Sehingga tubuh tidak dapat merasakan sakit dan nyeri. Selain itu, prostaglandin juga mempengaruhi setelan suhu tubuh di salah satu bagian otak bernama hipotalamus. Sehingga, orang yang mengalami kenaikan suhu (demam) dapat diatasi dengan adanya paracetamol yang dapat menghambat pembentukan prostaglandin, sehingga suhu tubuh dapat kembali normal, inilah yang disebut dengan efek antipiretik dalam bahan obat paracetamol.

Lalu, bagaimana sih sebenarnya dosis atau anjuran konsumsi paracetamol yang baik itu?

Dosis yang baik, harus mengikuti anjuran dokter, agar obat yang dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping. Berikut pembagian dosis konsumsi harian paracetamol sesuai dengan umur:

  1. Umur 6 bulan – 2 tahun: 60 mg – 120 mg
  2. Umur 2 – 6 tahun: 120-250 mg.
  3. Umur 6 – 12 tahun: 250-500 mg.
  4. Umur di atas 12 tahun : 500 mg. 
  5. Dewasa : 0,5 – 1 gram, maksimal 4 gram sehari (diminum setiap rentang 4-6 jam)

Ingat, konsumsi dosis paracetamol harus berdasarkan anjuran dosis dari dokter, karena jika tidak sesuai dapat menimbulkan efek samping, salah satunya terhadap ginjal kita.

Bagaimana? Sekarang sudah bisa dimengerti kan, bentuk sediaan cair obat itu tidak hanya sirup.

Ohiya, tambahan informasi. Paracetamol ternyata juga bisa digunakan sebagai obat sakit hati secara emosional, loh..

Mau tahu informasi lengkapnya? Simak terus update berita dan artikel di website farmasi UNIDA Gontor.

Semoga bermanfaat..

*Dikutip dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *