Dunia kesehatan Indonesia tengah dikejutkan dengan penemuan kasus gagal ginjal akut (GGA) yang dialami oleh anak-anak. Menurut data dari Kementerian Kesehatan per tanggal 21 Oktober terdapat 241 kasus GGA pada anak yang tersebar di 22 provinsi dengan 133 kematian atau 55 persen dari kasus di Indonesia. Berbagai pihak terkait, termasuk pemangku kebijakan dan industri farmasi melakukan penyelidikan analisa terkait obat cair yang diperkirakan menjadi penyebab kejadian GGA ini. Hasilnya, ditemukan salah satu faktor penyebabnya adalah adanya Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) dalam obat sirup yang dikonsumsi oleh anak yang menderita GGA.

Lalu apa sebenarnya EG dan DEG ini? Dan bagaimana keduanya dapat menyebabkan GGA?

Etilen Glikol dan Dietilen Glikol merupakan senyawa berwujud cairan bening, tidak berwarna, tidak berbau dan memiliki rasa yang manis. Keduanya merupakan senyawa yang tidak wajar terdapat pada obat, makanan, maupun minuman karena sifatnya yang beracun. Dalam ilmu farmasi, EG dan DEG dapat ditemukan pada obat sirup sebagai cemaran dari bahan pelarut yang digunakan dalam formulasi sediaan obat seperti Propilen Glikol, Sorbitol, dan Gliserin. Propilen Glikol maupun Sorbitol merupakan bahan tambahan obat yang digunakan untuk melarutkan zat aktif obat, atau sebagai tambahan rasa manis. Adanya cemaran EG dan DEG pada pelarut obat ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kualitas bahan tambahan obat yang tidak terstandar Pharmaceutical grade, dan proses produksi yang tidak baik sehingga menyebabkan bahan tambahan menjadi tidak stabil dan menimbulkan cemaran.

Baca juga terkait kelarutan bahan obat Paracetamol sebagai obat batuk dan penurun demam.

EG dan DEG yang ditemukan sebagai cemaran pada obat sirup dapat berbahaya jika melebihi ambang batas yang sudah ditentukan, yaitu 0,1% pada Gliserin, Propilen Glikol, dan Sorbitol. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar dan melebihi ambang batas yang ditentukan, EG dan DEG bersifat racun karena dapat diubah oleh tubuh menjadi senyawa berbahaya melalui proses metabolisme. Gejala keracunan EG dan DEG dapat muncul secara bertahap dalam 72 jam setelah zat masuk ke dalam tubuh:

  • Tahap I, terjadi 30 menit sampai 12 jam setelah konsumsi. Disebut juga tahap neurologis karena organ yang terkena dampak adalah sistem saraf pusat dan pencernaan, seperti pusing, sakit kepala, mual dan muntah
  • Tahap II, terjadi 12 sampai 24 jam setelah konsumsi. Disebut juga tahap cardiopulmonary karena organ yang terkena dampak adalah jantung dan paru-paru, seperti sesak napas, peningkatan detak jantung, hingga gagal jantung
  • Tahap III, terjadi 24 sampai 72 jam setelah konsumsi. Disebut juga tahap ginjal, dimana gejala yang muncul berkurangnya jumlah buang air kecil atau tidak buang air kecil sama sekali.

Penemuan kejadian gagal ginjal akut pada anak ini perlu mendapatkan perhatian lebih terutama bagi orang tua yang anaknya mengalami sakit. Masyarakat dapat menggunakan beberapa alternatif pengobatan seperti herbal medicine dan pemenuhan nutrisi tubuh sehingga dapat meningkatkan sistem imun. Jika anak terpaksa mengkonsumsi obat sirup, maka orang tua perlu lebih perhatian terhadap perubahan pada kondisi kesehatan anak. Penuhi asupan air minum pada anak, dan hindari penggunakan popok agar dapat mengontrol frekuensi buang air kecil anak.

Baca juga artikel seputar herbal medicine melalui tautan link berikut

Anak-anak yang tidak membaik dengan pemberian obat sirup dan muncul gejala seperti yang disebutkan di atas agar segera dirujuk ke unit pelayanan kesehatan, puskesmas maupun rumah sakit.

Semoga bermanfaat.

Redaktur: apt. Nadia Iha Fatihah, M.Clin.Pharm
Ed: IW

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *