Image by Freepik

Lebih baik sakit gigi
Daripada sakit, hati ini..

Lagu oleh Meggy Z

Lirik lagu lama tersebut, sampai saat ini masih sering dinyanyikan oleh para kaum milenial yang sedang mengalami sakit hati.

Apa yang dimaksud ‘sakit hati’? Lalu, bisakah ‘sakit hati’ diobati dengan paracetamol seperti sakit nyeri lainnya?

Sakit hati merupakan sebuah istilah umum yang digunakan untuk mendeksripsikan rasa sakit secara emosional. Sakit hati bisa disebabkan oleh sebuah rasa penderitaan atau kesedihan mendalam yang dirasakan seseorang setelah mengalami hal menyakitkan seperti kehilangan orang yang dicintai, terabaikan, atau mendapat penolakan dan pengkhianatan yang terjadi dalam suatu waktu. Frasa sakit hati ini umumnya diterjemahkan oleh penderita sebagai sebuah rasa sakit atau sesak yang dirasakan di dada sebagai dampak dari kesedihan tersebut.

Meskipun sakit hati biasanya tidak memberi kerusakan fisik apapun pada organ tubuh, namun sakit hati dapat memunculkan sebuah kondisi yang disebut kardiomiopati takotsubo atau biasa disebut sindrom patah hati, yaitu suatu penyakit jantung yang bermanifestasi dengan turunnya fungsi ventrikel jantung secara akut yang dipicu oleh kondisi stres baik fisik maupun emosional yang bersifat sementara dan biasanya akan membaik dalam jangka waktu beberapa hari sampai beberapa minggu. Pada kasus ini, seseorang yang mengalami insiden menyakitkan hingga menyebabkan trauma akan mendorong otak untuk menyalurkan zat-zat kimia ke jaringan jantung yang melemah.

Daerah otak yang menerjemahkan rasa sakit teraktifkan ketika seseorang mengalami penolakan sosial, atau kehilangan sosial pada umumnya.

psikolog sosial Universitas Michigan, Ethan Kross

Proses neurologis yang terlibat dalam persepsi sakit hati masih belum diketahui secara jelas, namun diperkirkan melibatkan korteks singular anterior otak yang berstimulasi secara berlebih terhadap saraf vagus saat seseorang mengalami tekanan emosional, sehingga timbullah rasa sakit, mual, dan otot dada yang mengencang disertai rasa lemas, kedinginan, dan nyeri seperti flu. Hal ini mengakibatkan tubuh memproduksi lebih hormon cortisol, yang dapat mengurangi aliran darah ke sistem pencernaan, sehingga nafsu makan menghilang dan terjadi gangguan pencernaan lainnya yang membuat seseorang makin kehilangan energi dan mempengaruhi seluruh tubuh. Jika sudah demikian, maka sistem kekebalan tubuh dapat menurun dan tubuh menjadi lebih lemah terhadap serangan bakteri dan virus penyebab penyakit fisik.

Bisakah parasetamol mengobati sakit hati?

Sebuah penelitian dilakukan oleh Kyle G. Ratner, seorang ahli saraf dari University of California terhadap 62 responden yang mengalami sakit hati (red: brokenheart) untuk mengkonsumsi paracetamol. Respon rasa sakit hati dicatat setiap malam selama 3 pekan. Hasilnya, terbukti paracetamol dengan dosis konsumsi 1000 mg atau sekitar 2 tablet setiap harinya dapat mengurangi rasa sakit hati secara signifikan. Meski demikian, hasil yang berbeda ditunjukkan pada responden pria. Sebaliknya, pria justru merasa lebih terganggu untuk menekan rasa sakit hati yang dirasakannya setelah mengkonsumsi paracetamol selama proses penelitian.

Penelitian ini mendapatkan beberapa respon positif dan negatif, salah satunya adalah kekhawatiran para ahli kesehatan tentang tidak adanya kejelasan antara keterkaitan paracetamol dengan efek psikologis dari sakit hati. Selain itu, paracetamol memang dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit sebagai analgesik (baca keterangan lengkapnya di link ini) namun penggunaannya dalam jangka waktu yang panjang dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

Bagaimana mengobati sakit hati ala muslimah?

Sebagai seorang muslim, menyikapi persoalan sakit hati yang biasa dialami secara emosional hendaklah selalu mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki Pencipta, dan bahwasanya Al-Qur’an telah diturunkan sebagai obat yang paling tepat untuk menyembuhkan segala macam penyakit. 2 hal yang dapat dilakukan untuk mengobati sakit hati adalah: (1) Muhasabah diri, dan (2) Mengingat Allah.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allâh-lah hati menjadi tenteram

Q.S Ar-Ra’d (13): 28

Bagaimana? Apakah kalian pernah merasakan sakit hati? Dan maukah kalian mengobatinya menggunakan paracetamol?

Referensi
  • Ratner, K. G., Kaczmarek, A. R., & Hong, Y. (2018). Can Over-the-Counter Pain Medications Influence Our Thoughts and Emotions? Policy Insights from the Behavioral and Brain Sciences, 5(1), 82–89. https://doi.org/10.1177/2372732217748965
  • Overell. A., & Kross, E. (2019). How self-talk promotes self-regulation: Implications for coping with emotional pain. In S. C. Rudert, R. Greifender, & K. D. Williams (Eds.), Current Directions in Ostracism, Social Exclusion and Rejection Research. New York, NY: Routledge
  • Koban, L., Kross, E., Woo, C. W., Ruzic, L., & Wager, T. D. (2017). Frontal-brainstem pathways mediatig placebo effects on emotional pain. Journal of Neuroscience, 37(13), 3621-3631
  • Guy Winch dikutip dari buku How to Fix a Broken Heart

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *