Pernah mendengar atau melihat orang mengkonsumsi semangka tanpa biji?
Atau makan burger vegan tanpa daging sapi? Lalu dibuat dari apa daging patty nya?
Nah, itu semua adalah bentuk inovasi ilmu pengetahuan bioteknologi di bidang pangan.

Bioteknologi merupakan cabang ilmu yang memanfaatkan makhluk hidup maupun produk dari makhluk hidup dalam proses produksi untuk menghasilkan suatu produk baru yang lebih baik. Bioteknologi saat ini diterapkan salah satunya untuk menghasilkan pangan yang unggul dalam hal nutrisi, rasa, sifat fungsional, umur simpan dan karakteristik atau ciri khas lainnya. Contoh lain bioteknologi di bidang pangan adalah penggunaan enzim untuk persiapan dan pengolahan bahan, teknologi sel mikroba untuk menghasilkan pangan fermentasi ataupun bahan tambahan pangan (food additive), kultur jaringan atau sel tanaman dan tanaman transgenik serta kultur sel hewan dan hewan transgenic.

Masih bingung dengan istilah bioteknologi pangan?
Mudahnya, apakah kalian pernah mendengar salah satu jenis bahan pangan ini? Terasi? Oncom? Tape?

Ternyata makanan khas Indonesia yang sudah ada sejak zaman dahulu kala ini adalah merupakan salah satu produk hasil rekayasa bioteknologi konvensional, yaitu melalui fermentasi. Wah, keren ya nenek moyang kita.

Selain teknik konvensional seperti fermentasi, salah satu teknik dalam bioteknologi adalah melalui rekayasa genetika, dan ini disebut teknik bioteknologi modern. Dalam teknik ini, biasanya peneliti akan menyisipkan potongan gen hewan atau tumbuhan ke dalam suatu gen bakteri. Kemudian gen bakteri tersebut akan dimasukkan ke dalam gen hewan atau tanaman tertentu, sehingga dihasilkan suatu produk yang disebut GMO (Genetically Modified Organism). Hasil dari rekayasa genetika ini ditujukan untuk mendapatkan varietas tanaman atau ternak dengan sifat unggul dan memiliki produktivitas yang tinggi.

Produk hasil rekayasa bioteknologi ini, selain memberikan nuansa dan inovasi baru dalam bidang pangan, juga menarik perdebatan terkait kehalalan dan keamanannya. Banyaknya perdebatan mengenai produk yang berasal dari rekayasa genetik beberapa waktu lalu telah menarik dunia internasional untuk mencantumkan label halal, khusus produk rekayasa genetik atau GMO (Genetically Modified Organism). Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, memberikan beberapa ketentuan mengenai produk bioteknologi ini melalui fatwa MUI dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 33 tahun 2014 tentang jaminan produk halal. Dimana disebutkan pada pasal 4 tentang kewajiban sertifikasi halal untuk semua produk yang masuk, beredar dan diperdagangkan di wilayah Indonesia.

Terdapat tiga kondisi yang cukup mengkhawatirkan produk rekayasa genetika yakni reaksi alergi (alergisitas), transfer gen dan outcrossing (Egayanti, 2010). Menurut Riaz dan Chaudry (2004) dalam pandangan islam segala sesuatu itu halal kecuali secara spesifik diharamkan oleh syariat. Tidak ada ayat-ayat al-qur’ an ataupun hadist yang mengharamkan makanan hasil rekayasa genetika karena rekayasa genetika merupakan perkembangan terbaru dalam sians. Akan tetapi produk rekayasa genetika yang dihasilkan dari yang diharamkan tetapi merupakan produk yang haram.

Hukum Kehalalan GMO dalam Bioteknologi:

MUI mengeluarkan fatwa mengenai kehalalan produk bioteknologi yang tertuang dalam Fatwa MUI Nomor 35 Tahun 2013 tentang Rekayasa Genetika dan Produknya, dengan keterangan sebagai berikut:

  1. Pertama, melakukan rekayasa genetika terhadap hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme adalah mubah (boleh), dengan syarat; (a) Dilakukan untuk kemaslahatan (bermanfaat), (b) Tidak menimbulkan mudharat (bahaya) bagi manusia maupun lingkungan, (c) Tidak menggunakan gen atau bagian lain yang berasal dari tubuh manusia.
  2. Kedua, tumbuh-tumbuhan hasil rekayasa genetika adalah halal dan boleh digunakan, dengan syarat; (a) Bermanfaat dan (b) Tidak membahayakan.
  3. Ketiga, hewan hasil rekayasa genetika adalah halal, dengan syarat; (a) Hewannya termasuk dalam kategori ma’kul al-lahm (jenis hewan yang dagingnya halal dikonsumsi), (b) Bermanfaat dan (c) Tidak membahayakan.
  4. Keempat, produk hasil rekayasa genetika pada produk pangan, obat-obatan, dan kosmetika adalah halal dengan syarat; (a) Bermanfaat, (b) Tidak membahayakan, dan (c) Sumber asal gen pada produk rekayasa genetika bukan berasal dari yang haram.

Selama produk hasil rekayasa genetika tidak mengandung bahan yang diharamkan dalam syari’at islam maka diperbolehkan untuk mengonsumsinya. Karena dengan mengonsumsi makanan yang halal dan thayyib (baik) maka akal, jiwa, dan raga manusia akan senantiasa terjaga sehingga amal ibadah yang dilakukan bisa optimal dan diterima oleh Allah SWT.

Program Studi Farmasi UNIDA Gontor merupakan salah satu institusi perguruan tinggi yang sangat mendukung praktek sadar halal. Dengan terus mengedukasi baik mahasiswi dan seluruh civitas akademiknya tentang pentingnya konsumsi hal-hal yang hanya berlabel halal, Farmasi UNIDA Gontor telah membentuk suatu miliu yang baik dalam lingkungan masyarakat islamis dan dinamis untuk mempraktekkan islam, iman dan ihsan.

Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan adalah dengan mengadakan kegiatan kuliah pakar tentang ‘Halal Street Food dan Produk Farmasetik’, selengkapnya baca di sini.

Nah, jadi apakah ternyata kalian pernah mengkonsumsi produk bioteknologi? Kira-kira produk apa saja yang pernah kalian konsumsi? Dan halalkah produk tersebut?

Ditulis oleh: Solikah Ana Estikomah, M.Si
Editor: IW

Reference:

Egayanti, Y. 2010. Pangan Produk Rekayasa Genetika Dan Pengkajian Keamanannya Di Indonesia. Info Pom 11 (1): 1-5.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: 35 Tahun 2013 Tentang Rekayasa Genetika Dan Produknya

Pramashinta A., Riska L., Hadiyanto. 2014. Bioteknologi Pangan: Sejarah, Manfaat Dan Potensi Resiko. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan 3 (1): 1-5.

Riaz, Mn., Chaudry, Mm. 2004. The Value Of Halal Food Production, International News On Fats, Oils And Related Materials, Inform 15: 11-23.

Sagara B. 2013. Industri Pangan Halal. Https://Www.Scribd.Com. E-Book.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *